
Tujuan : Agar warga jemaat menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan tidak pernah berpaling dari-Nya
Sidang jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,
Di Yehuda, jarang turun hujan selama musim kering. Karena itu orang-orang membuat kolam atau lubang di tanah untuk menyimpan air. Tentu kolam yang bocor atau retak tidak dapat menyimpan air dengan baik dan tidak berguna lagi sebab tidak dapat menyimpan air. Yeremia diutus di tengah-tengah Masyarakat yang bobrok di berbagai sendi kehidupan. Termasuk dalam bidang keagamaan. Berulang kali Allah mengingatkan mereka baik dengan penglihatan-penglihatan yang mengancam kehidupan dan keselamatan mereka yang dapat menjadi malapetaka, di sisi lain Allah juga mengungkapkan pengharapan bagi mereka. Kita dapat memahami melalui bacaan kita pada saat ini bahwa hubungan antara Tuhan dan umatnya tidak lagi mesra. Umat Allah telah beribadah kepada Ilah-ilah lain dan melanggar perjanjian yang Allah buat dengan mereka pada zaman musa. Seperti yang diungkapkan dalam ayat 2-3. Hubungan yang semula baik, Di mana mereka dikatakan sebagai buah bunga randari hasil tanah. Israel dianggap sebagai umat kudus, serta semua bangsa yang melawannya mendapatkan malapetaka dari Tuhan. Namun, betapa mudahnya umat yang dipilih itu mendua hati. Ini seperti pepatah yang mengatakan “lupa kacang, akan kulitnya”, bukannya berterima kasih, atas kemerdekaan dan berkat-berkat yang melimpah malah mengkhianati Tuhan dan mengikuti, menyembah ilah bangsa-bangsa lain. Ini kita bisa umpamakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan kita telah berupaya sebaik-baiknya, berbuat baik, menolong dan membantu Ketika dalam saat-saat yang kritis. Lalu disaat kita membutuhkannya, atau ingin pertolongannya malahan ditinggalkan atau diabaikan. Dan itu juga dapat terjadi antara orang tua dan anak-anaknya. Yang lebih parah lagi ia lah dalam ayat 8, disebutkan bahwa para imam, gembala atau nabi juga mengikuti apa yang tidak berguna. Mereka semestinya menjadi teladan integritas iman kepada Tuhan justru berpaling dan mengikuti ilah-ilah lain.
Sidang jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,
Untuk itu baik umat maupun pemimpinnya dikatakan sebagai “kolam yang bocor”. Di saat Tuhan menyediakan kemuliaan bagi mereka, justru mereka menukarnya dengan apa yang tidak berguna (ayat 11). Di saat Tuhan sebagai sumber air yang hidup mereka justru berusaha dengan caranya sendiri mencari sumber yang lain. Bagaimana dengan kita sekarang ini? Bisa saja kita mengklaim bahwa sekarang ini umat Tuhan tidak lagi memuja berhala. Namun bernarkah kita tidak menduakan Dia dalam hidup kita sehari-hari? Benarkah bahwa setiap umat dan pemimpinnya sudah setia kepada Tuhan atau terkadang menggeser kedudukan Tuhan dengan hal-hal yang diusahakan sendiri dalam hidup kita? Popularitas, kekuasaan, harta, pertemanan, pekerjaan, pacaranbagi yang muda-mudi, usaha atau bisnis, dan lainnya mungkin masih banyak lagi. Betapa menyedihkannya bila kita menempatkan semuanya itu lebih utama dari pada sumber berkat itu sendiri. Tuhan sumber air hidup, Tuhan sumber berkat. Jangan berusaha untuk menjadi kolam yang bocor. Amin.
Komentar Terbaru