KUASA YANG MENYEMBUHKAN

Minggu, 12 September 2021 (Stola Hijau)

Bacaan Alkitab  :  Markus 7 : 24 – 37

Tujuan  :  Agar jemaat memahami bahwa Tuhan itu berkuasa dan dengan kuasaNya dapat menyembuhkan baik jasmani maupun rohani                 

Kita bersama mengetahui bahwa Allah yang kita Imani adalah Allah yang Maha kasih dan Maha kuasa. Kasih dan kuasaNya agung, ajaib dan sempurna. Hal itu nampak dalam karya ciptaanNya, yang amat baik dan sangat sempurna. Namun semua menjadi rusak oleh karena ulah manusia pertama Adam dan Hawa yang tergoda bujuk rayu ular yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam dosa. Sejak saat itulah dosa merusak tatanan kehidupan manusia di alam semesta ini. Akan tetapi kenyataan itu tidak menjadikan Allah berhenti berkarya.

Dosa tidak dapat dapat menghambat Kasih dan Kuasa Allah. Allah tidak dapat tinggal diam dengan kekacauan yang dihasilkan dosa bagi kehidupan manusia di dunia. Allah justru terdorong untuk memperbaiki dan membaharui semuanya. Itulah sebabnya Allah Bapa mengutus anak Tunggalnya Yesus Kristus untuk mewujudkan hal tersebut. 

Kesemuanya itu memperlihatkan bahwa dalam berkarya  Allah tidak pernah setengah-tengah, Allah senantiasa  bertindak secara utuh dan sempurna. Termasuk melalui mujizat penyembuhan bagi dua orang sakit, dalam perikop bacaan kita pada hari ini. Pertama: kisah seorang ibu yang anaknya kerasukan roh jahat dan kedua kisah penyembuhan seorang yang tuli dan gagap. Melalui kedua kisah penyembuhan itu nyata bahwa Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Dari segala suku bangsa, jenis kelamin dan dari berbagai jenis penyakit yang mereka alami. Semua ditolong dan disembuhkan baik melalui perkataan (jarak jauh) maupun sentuhan langsung (jarak dekat). Penyembuhannya pun berlaku total dan menyeluruh yakni kesembuhan jasmani maupun rohani/jiwa. Hal itu penting mengingat dari semula Allah memang menciptakan manusia secara utuh.  Maka dalam proses dan karya penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pun lengkap dan utuh. 

Ada baiknya kita melihat karya penyembuhan yang dibuat oleh Tuhan Yesus satu persatu. Kita mulai dengan kisah pertama, sebuah peristiwa yang terjadi di daerah Tirus, ang merupakan daerah non Yahudi. Namun sesungguhnya kedatangan Tuhan Yesus ke tempat tersebut dengan maksud untuk menenangkan diri dari kegiatan pelayanan. Yesus berharap tidak ada yang menggangu waktu istiratnya tersebut. Hal itu terungkap dalam kalimat: Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, (ayat 23b).

Akan tetapi rupanya kedatanganNya di daerah Tirus tidak bisa disembunyikan: kedatanganNya tidak dapat  dirahasikan (ayat 24c). Itu terbukti dengan kehadiran  seorang ibu, perempuan Yunani bangsa Siro-Fenisia yang anaknya perempuan kerasukan setan. Ia datang memohon kepada Yesus untuk mengusir setan dari anaknya, (ayat 25-26). 

Permohonan ibu tersebut kemudian direspon Tuhan Yesus dengan berkata: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”, (ayat 27).  Jawaban/ungkapan Tuhan Yesus tersebut selintas sangat tajam dan dapat menyinggung perasaan siapa pun yang mendengarnya.

Mungkinkah Tuhan Yesus yang Maha kasih dan selalu peduli kepada siapa saja dapat mengungkapkan kata-kata seperti itu? Sehubungan dengan itu Perlu diketahui bahwa bangsa Yahudi (orang Israel) memang menyebut orang/bangsa di luar Yahudi dengan kata/istilah anjing. Sebab orang/bangsa non Yahudi dipandang bukan umat perjanjian Allah atau bukan bangsa pilihan Allah. Makanya orang/bangsa non Yahudi diistilahkan anjing karena dianggap kafir, dianggap najis. Jadi Tuhan Yesus seolah hanya “meminjam” kata/istilah tersebut. Dalam hal ini Tuhan Yesus hanya mengingatkan keberadaan sebagai orang/bangsa non Yahudi, yang tidak termasuk dalam umat perjanjian Allah. Sesungguhnya semua itu dilakukan Tuhan Yesus dengan maksud menguji kesungguhan iman perempuan non Yahudi tersebut.  

Jawaban Tuhan Yesus pada perempuan itu, rupanya tidak membuatnya tersinggung. Mungkin baginya kesembuhan anaknya jauh lebih penting dari pada reaksi orang atas usahanya. Perempuan itu tidak mau pergi sampai mendapatkan apa yang ia cari, sungguh suatu upaya yang gigih. Justru perempuan itu menanggapi jawaban Tuhan Yesus dengan cara positif. Ia mengatakan benar demikianlah halnya, orang/bangsa non Yahudi adalah prioritas utama sebagai bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bukan tidak mungkin anjing di bawah meja juga masih mendapatkan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.

Jika kita bahasakan dalam pengertian yang lebih sederhana, maka perempuan itu hendak berkata: “Tuhan saya sadar siapa diri saya. Saya pun tidak minta diperlakukan sebagai anak (bangsa pilihan, umat Allah) yang layak menerima kasih karuniaMu, Tuhan. Tapi hatiku percaya dan berharap remah anugerah saja sudah cukup bagi kesembuhan anakku.” Ya, perempuan itu begitu yakin Yesus memiliki kuasa yang sanggup melakukan mujizat, tanpa harus menyentuh langsung anaknya Dan ternyata iman perempuan yang begitu teguh serta kerendahan hatinya, membuat keinginan dan harapannya pun terkabul. Yesus berkata kepadanya: karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu, (ayat 29). Dari peristiwa ini sebenarnya hendak menyatakan bahwa di saat Yesus menerima perempuan itu sujud di depannya, Yesus ingin memperlihatkan kepada para muridNya bahwa berkat kesembuhan juga dianugerahkan hanya kepada bangsa Yahudi/Israel saja, tetapi juga bagi bangsa non Yahudi.

Pada kisah selajutnya diceritakan setelah Yesus menyembuhkan anak perempuan Siro Fenisia, Yesus meninggalkan daerah Tirus dank ke sebuah daerah bernama Dekapolis. Di daerah itu terjadi penyembuhan bagi seorang yang tuli. Dann umumnya bila seorang tuli akan bisu juga karena ia tidak bisa mendengar kata-kata orang lain maka dengan sendirinya ia pun tidak terlatih untuk berkata-kata/berbicara. Kalau pun berkata-kata dengan terpatah-patah alias gagap seperti yang dialami oleh seseorang yang dikisahkan dalam perikop bacaan kita saat ini. 

Berbeda denga proses penyembuhan kepada anak dari seorang ibu Siro Fenisia yang cukup dengan kata-kata saja. Tetapi untuk penyembuhan kepada orang tuli ini, Tuhan Yesus menangani dengan khusus. Dimulai dengan memisahkannya dari orang banyak. Hal itu sengaja dilakukan oleh Yesus karena orang itu tentunya tidak pernah mendengarkan Firman Tuhan, atau paling tidak mendengarkan kesaksian penyembuhan yang dialami orang lain. Sehari-hari hidupnya terisolasi dari lingkungan sekitarnya, sebab ia sulit berkomunikasi dengan orang lain demikian pula sebaliknya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menghendaki orang tuli tersebut bisa fokus untuk melihat dan merasakan langsung bagaimana kuasa Allah bekerja bagi kesembuhannya.

Bahwa sekali pun kelihatannya sederhana tindakan  Tuhan Yesus yakni dengan memasukkan jariNya ke  telinga, lalu meludah dan meraba lidah orang tuli tersebut. Namun menjadi dasyat dan luar biasa karena disertai dengan kuasa dari Allah Bapa di Surga sehingga hanya denga satu kata “Efata!” yang berarti

Terbukalah!, maka seketika itu juga orang yang tuli itu bisa mendengar dan terlepas pula pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik, ay32-36). Dengan melihat dan merasakan langsung keajaiban itu bisa  menumbuhkan iman percaya si tuli akan kebesaran kuasa Allah. Bahwa kuasa Allah yang hebat dan luar biasa. 

Lebih dari pada itu tindakan memisahkannya orang tuli itu dengan orang banyak ialah Tuhan Yesus ingin menjalin hubungan/kontak pribadi dengan orang tuli itu.

Hal ini perlu mengingat selama ini orang tersebut terasing dari kehidupan sosial dan masyarkat. Tidak dianggap dan tidak diperhitungkan oleh lingkungan tempat tinggalnya mungkin termasuk oleh keluarganya sendiri. Dalam hal ini Tuhan Yesus menganggap hubungan pribadi diriNya dengan orang tuli adalah hal yang sangat penting, untuk mengembalikan harga diri serta rasa percaya diri orang tuli tersebut. Sehingga bukan hanya telinga dan lidahnya jadi terbuka, tetapi hatinya pun jadi terbuka pada Yesus. Ini terlihat dari kesaksiannya pada orang banyak. Mulutnya tidak hentihentinya membicarakan kuasa dan karya Yesus yang ia alami. Tak heran bila orang banyak pun menjadi takjub (ayat 37). 

Dari dua kisah penyembuhan itu nyata bahwa Allah tidak pernah pilih kasih, tidak membedakan latar belakang seseorang. Baik dari kalangan umat Tuhan maupun di luar umat Tuhan. Tuhan Yesus senantiasa melakukan sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap orang, sesuai dengan  caraNya sendiri. Di samping itu Tuhan Yesus dalam  menyembuhkan juga ingin menekankan bahwa hubungan dengan pemberi berkat itu jauh lebih penting dari pada berkat itu sendiri. Dengan demikian orang tuli itu tidak hanya disembuhkan dari sakitnya, tapi juga hungan dengan orang lain/masyarakat terlebih Tuhan dipulihkan. Dan pada akhirnya orang akan meyadari dan mengimani kuasa Allah yang luar biasa, yang dapat menyembuhkan baik jasmani maupun rohani, Amin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *