SALIB ADALAH PENGURBANAN AGUNG YESUS KRISTUS HAMBA ALLAH (Yesaya 52:13 – 53:12)

Jumat, 29 Maret (Jumat Agung) Stola Ungu

Tujuan : Agar warga jemaat tetap berpegang pada salib Kristus yang menyelamatkan dalam menjalani panggilan hidup kekristenan

Kitab deutro Yesaya 52:13-53:12 ini menjadi bahan renungan kita pada kebaktian perayaan Jumat Agung hari ini, di mana kita akan merenungkan kembali puncak penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus yakni kematian- Nya di atas kayu salib. Melalui bacaan ini, dijelaskan bahwa nabi Yesaya telah menubuatkan 700 tahun yang lampau dan digenapi melalui penyaliban Tuhan Yesus di atas kayu salib dengan ungkapan hamba Tuhan yang menderita.


Nubuat nabi Yesaya tentang hamba yang menderita ini diwujudkan dalam penderitaan dan kematian Tuhan Yesus (bdk.1 Petrus 2:24-25). Hal ini mengungkapkan bahwa rencana Allah dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari dosa dilakukan dengan cara “kurban” tetapi kurban yang dimaksudkan tidak lagi berupa domba atau lembu yang tidak bercacat melainkan kurban atau pengorbanan melalui anak-Nya sendiri yakni Yesus Kristus.


Mengapa karya penyelamatan Allah harus mengorbankan anak-Nya sendiri? Mengapa Allah mau melakukan dengan tidak menyayangkan anaknya sendiri? (1 Petrus 2:21-25) Pertanyaan-pertanyaan ini mestinya Kita harus renungkan dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa karena begitu besar pelanggaran dan dosa manusia di hadapan Allah sehingga murka dan penghukumannya akan berdampak kepada kebinasaan yang kekal. itulah yang diungkapkan Rasul Paulus ketika ia berkata: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang melepaskan aku dari tubuh maut ini!” (Roma 7:24). Jadi dengan peristiwa penyaliban dan melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib, mengajak kita untuk memahami cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia agar diselamatkan. Ketika salib, kita pahami sebagai bentuk pengorbanan agung Yesus Kristus sebagai hamba Allah maka salib itu berarti:

  1. Salib itu sebenarnya “tanda kutuk” yang dinyatakan supaya dengan demikian kita dapat memahami Tuhan Yesus sebagai hamba Allah disalib sebagai ganti kita yang ditimpakan Bapa-Nya kepada-Nya (Roma 3:13)
  2. Salib itu sekaligus menyatakan bukti kasih Allah bahwa dengan kematian anak-Nya di atas kayu salib menunjukkan sebuah pengurbanan yang sempurna sebab dengan pengurbanan-Nya ini menjadikan pintu anugerah Allah dinyatakan dan pengampunan-Nya diberikan dengan cuma-cuma tanpa lagi melakukan berbagai ritus untuk memperoleh pengampunan.
  3. Salib juga berarti tanda perdamaian yang diprakarsai oleh Allah sendiri dalam rangka mendamaikan diri- Nya dengan umat-Nya.

Kita sebagai hamba Allah dipanggil untuk tetap berpegang pada salib Kristus yang telah menebus kita dengan cara yang ajaib, Tuhan Yesus Kristus kiranya menolong kita agar kita tetap didapati-Nya menjadi hamba Allah yang selalu setia mengikuti-Nya, amin.